FilmHafalan Shalat Delisa dibuat untuk mengenang tragedi tsunami yang terjadi di Aceh 2004 lalu.. Gempa yang meluluh lantahkan Aceh dengan kekuatan skala ritcher, yang kemudian disusul gelombang tsunami setinggi 30 meter pada tahun 2004 lalu meninggalkan banyak luka bagi semua orang dan sekelumit cerita diangkat ke layar lebar dengan judul film Hafalan Shalat Delisa.
Resensiadalah pertimbangan buku, pembicaraan buku, atau ulasan buku dengan bahasa yang agak mentereng, berarti membedah, menganalisa, dan mencari roh atau inti dari buku. (Keraf, 2001: 247). Dari dua contoh tersebut tentu bisa diketahui bahwa semua unsur catatan tubuh diletakan di dalam tanda kurung..
ResensiNovel "Hafalan Shalat Delisa" Karya Tere Liye. - Latar Waktu : Pagi, siang, malam, dini hari. - Suasana : Senang, sedih, haru. - Sudut Pandang : sudut pandang yang digunakan penulis dalam cerita ini yaitu sudut pandang orang ketiga. Hal ini dapat dibuktikan oleh penulis yang selalu menyebutkan nama tokoh yang terdapat dalam novel ini.
ResensiFilm Hafalan Shalat Delisa. Film ini diangkat dari novel karya tere-liye berjudul sama, yaitu Hafalan Shalat Delisa. Mengisahkan tentang seorang gadis kecil dari Aceh bernama Delisa yang sedang berusaha menyelesaikan hapalan shalat agar mendapatkan hadiah kalung. Namun, semuanya berubah saat negara api menyerang saat tsunami menerjang.
Delisasangat senang bisa berkumpul dengan ayahnya lagi. Meski begitu, ia juga tak bisa menyembunyikan kesedihan karena kehilangan kakak dan ibunya. Bagi Anda yang penasaran dengan kelanjutan kisah Delisa dan ayahnya, saksikan film Hafalan Shalat Delisa yang tayang di Netflix mulai Kamis (22/10/2020). Dapatkan update berita pilihan dan breaking
Padasuatu ketika ujian tes hafalan bacaan shalat pun tiba. Umi Salamah berangkat ke sekolah untuk mengantar sekaligus manyaksikan putrinya dites hafalan bacaan shalat. Ketika dalam proses pengetesan praktik dan hafalan bacaan shalat, Delisa membacanya terlihat khusu sembari menutup matanya. Pada saat dipertengahan Delisa membaca do'a iftitah
Ahiya, Ustadz Rahman juga pernah bilang: kita belajar shalat hadiahnya nggak sebanding dengan kalung, hadiahnya sebanding dengan surga."-hal. 33 . Tere Liye adalah penulis best seller terkenal di Indonesia, bahkan banyak karyanya sudah di-film-kan—mencapai jutaan penonton pula, salah satunya Hafalan Shalat Delisa.
Nama: Wieke PrastikaKelas : XI IPS 3TUGAS BAHASA INDONESIAMohon maaf jika banyak kesalahan
Filmhafalan Sholat Delisa diangkat dari novel fiksi dengan judul yang sama, karya Tereliye. Novelnya terbit pada tahun 2005 silam, namun filmnya baru saja dirilis di tahun 2011 ini. Entah mengapa alasannya hingga Sony Gaokasak baru membuat Film ini 6 tahun setelah terbitnya novel tersebut.
Dalamperawatannya, Beberapa waktu lamanya Delisa tidak sadarkan diri, keadaannya tidak kunjung membaik juga tidak sebaliknya. sampai ketika seorang ibu yang di rawat sebelahnya melakukan sholat tahajud, pada bacaan sholat dimana hari itu hafalan shalat delisa terputus, kesadaran dan kesehatan Delisa terbangun. kaki delisa harus diamputasi.
nIuerpp. Delisa, seorang gadis kecil yang tinggal bersama Ibu dan kakak – kakaknya di Pantai Lok Nga, Aceh. Mereka hidup sederhana sedangkan abinya adalah seorang pekerja di kapal yang tidak setiap waktu ada dirumah. “Delisa cinta ummi karena Allah”. Begitu ucap Delisa ketika usai shalat berjamaah bersama kakak – kakaknya. Esoknya ketika Delisa selesai mengaji, Delisa menghampiri Ustad dan mengatakan bahwa ia telah melakukan sesuatu yang telah diperintahkan ustad sebelumnya. “Jadi Delisa udah bilang ke Ummi kalo Delisa cinta sama Ummi karena Allah?”. Dan delisa menagih coklat yang pernah dijanjikan ustad. Film ini begitu mengingatkan kita bahwa banyak cara untuk memahamkan anak – anak agar mampu menghafal bacaan shalat juga memahaminya. Seperti suatu kali Delisa sedang menghafal di ayunan. Tak jauh dari situ, kedua kakaknya yang memang kembar yaitu Aisa dan Zahra tengah bermain congklak. Maka delisa berkali – kali mengulang kalimat “wanusuki – wamamati – wamayaya”. Kemudian mengucap kembali ketika dirasa tidak yakin “wanusuki – wama.. – wama.. “ Maka aisa yang sesekali tampak senewen pada adik kecilnya itu pun menggangu konsentrasi Delisa. “Mana ada mati dulu baru yaya.” Disini begitu ditampakkan bahwa anak kecil pun dapat diajarkan membaca bacaan doa atau yang menggunakan bahasa arab sekalipun sambil diberitahukan artinya. Maka mereka akan lebih mudah mengingatnya. Begitu trenyuh ketika Delisa tersadar dari pingsannya yang lama. Kemudian ia bangun dan melihat kakinya yang telah buntung sebelah. Lantas apa yang dikatakannya,” Mungkin kaki Delisa kebawa air ya?” Sofie, dokter yang merawatnya pun sungguh takjub akan sikap anak kecil itu. Mengharukan ketika ayah Umam datang berlari mendekati Umam yang sedang bermain bersama Dlisa, dan mengatakan bahwa umi telah ditemukan. Delisa pun berteriak “Abi, abi, umi sudah ketemu.” Dan dengan perasaan sangat tidak enak, ayah Umam pun mengatakan bahwa yang telah ditemukan adalah uminya Umam bukan umminya Delisa. Maka marah – lah ia kepadaNya. Namun, sesuai dengan karakter anak kecil yang polos, ia tak menyimpan dendam dengan siapapun juga kepadaNya yang tak kunjung mengembalikan umi Delisa. Ia tetap belajar dan terus mengahafal bacaan shalat. Tidak lagi untuk mendapatkan kalung. Ia hanya ingin dapat mendoakan saudara – saudaranya yang telah pergi. Keluarga sederhana ini begitu menyenangkan. Ummi yang begitu penyayang. Sosoknya yang juga mampu menjadi pengganti Abi selagi suaminya pergi bekerja. Begitu tulus, lembut. Dan sangat mengesankan ketika ummi menenangkan Aisa yang sempat iri kepada Delisa karena akan dibelikan sepeda jika ia telah hafal bacaan shalat. Abi seorang pria yang begitu penyayang. Menjaga delisa sepenuh hati ketika tak ada satupun anggota keluarganya yang tersisa. Film ini pun sangat menyegarkan karena diperankan oleh para insan perfilman yang memang masih tergolong muda. Delisa diperankan oleh Chantiq Shagerl, Ummi diperankan Nirina Zubir sedangkan Abi diperankan oleh Reza Rahadian. Jika tak ingin membuang uang percuma untuk sekedar menonton bioskop, film ini cukup direkomendasikan sebab banyak petualangan spiritual yang diberikan. Sukses untuk film Indonesia. Amin. 🙂
Resensi Film Hafalan Shalat Delisa0% found this document useful 0 votes3K views6 pagesOriginal Titleresensi_film_Hafalan_Shalat_DelisaCopyright© © All Rights ReservedShare this documentDid you find this document useful?0% found this document useful 0 votes3K views6 pagesResensi Film Hafalan Shalat DelisaOriginal Titleresensi_film_Hafalan_Shalat_DelisaJump to Page You are on page 1of 6 You're Reading a Free Preview Pages 4 to 5 are not shown in this preview. Reward Your CuriosityEverything you want to Anywhere. Any Commitment. Cancel anytime.
Film ini diangkat dari novel karya tere-liye berjudul sama, yaitu Hafalan Shalat Delisa. Mengisahkan tentang seorang gadis kecil dari Aceh bernama Delisa yang sedang berusaha menyelesaikan hapalan shalat agar mendapatkan hadiah kalung. Namun, semuanya berubah saat negara api menyerang saat tsunami filmnya nggak jauh beda dari buku, meskipun ada yang beda dikit. Tapi suwer, saya sangat menikmatinya. ' Malah saya bener-bener bersyukur karena telah menontonnya. Udah lama banget saya nggak merasa se-trenyuh ini setelah menonton sebuah film. Terakhir ya Taare Zameen filmnya cukup bagus, meskipun banyak animasi ala Ind****ar yang bikin rada-rada sweatdrop. Adegan tsunami-nya, misalnya, rada-rada gimanaaa gitu karena keliatan banget efek komputer. ^^;; Namun, terlepas dari itu, kekuatan ceritanya memang menghanyutkan. Akting para pemainnya-terutama Reza Rahardian sebagai Abi-sangat menyentuh, apalagi waktu dia nangis setelah pulang ke Aceh dan melihat rumahnya rata dengan tanah. T___TKekurangan lainnya... ehm itu gaya kerudung Umi gaya 2011 kali, bukan gaya 2004. plak Dan saya sama sekali nggak inget ada romansa antara Ustadz Rahman dan Kak Sophie atau saya aja yang lupa? Baca bukunya udah lama sih. Tapi yang terakhir itu gak terlalu mengganggu sih, malah bikin cengar-cengir ada selipan begituannya. ^_^Well, secara umum... film ini memang penuh drama, meski sama sekali nggak lebay. Cerita yang mengalir seperti novelnya berhasil dipertahankan dalam film ini-mungkin memang film ini menekankan pada plot sehingga penonton terhanyut dan menontonnya dengan serius memang nuansa filmnya serius sih. Banyaaaaaak banget adegan menyentuh yang sukses bikin saya berkaca-kaca, bahkan temen saya yang nonton bareng aja berkali-kali mengusap mata. 'Saya inget banget, adegan yang bikin saya nangis di bukunya itu waktu Delisa meluk Abi dan bilang, "Delisa cinta Abi karena Allah". Di sini pun saya berkaca-kaca banget pas nonton bagian itu. T^TPemeran Delisa menurut saya cukup berhasil menampilkan imej kanak-kanak Delisa yang polos, walaupun-kalo boleh saya bilang-wajahnya itu rada terlalu Arab, beda sama yang saya pikirkan. Tapi sebagai aktris cilik baru, saya rasa aktingnya sudah baik sekali. Mungkin ada beberapa yang kurang natural, but it's OK... saya tetap terkesan. 'DSecara keseluruhan, saya jatuh hati sama film ini. Realisasi yang cukup bagus untuk novelnya, jauh lebih bagus daripada ekranisasi Ayat-ayat Cinta ya iyalah, nggak usah dibandingin itu mah -,-. Pesan moral tentang keikhlasan yang memang kental sekali di novelnya terwujudkan dengan sempurna di sini. Bener-bener film yang cocok ditonton keluarga... pembelajaran yang bagus untuk anak-anak. 'Sangat sangat sangat direkomendasikan~! XDcopas from